ads

Showing posts with label Planet. Show all posts
Showing posts with label Planet. Show all posts

Planet dalam tata surya

8 Planet dalam Tata Surya

Tata surya merupakan sekumpulan benda-benda langit yang terdiri dari satu buah bintang yang dinamakan Matahari dan seluruh objek terpengaruh oleh gaya gravitasinya. Objek-objek tersebut mencakup 8 planet yang diketahui memiliki orbit yang berbentuk elips, 5 buah planet kerdil, satelit-satelit alami yang telah diidentifikasi, dan berbagai benda langit (komet, asteroid, meteor) lainnya.



Gambar: tata surya

1. Merkurius




Merkurius merupakan planet terkecil dalam tata surya. Planet ini juga merupakan planet yang terdekat dengan matahari. Planet ini memiliki kala rotasi 59 hari dan kala revolusi 88 hari. Seperti halnya Bulan, Merkurius memiliki inti besi yang menimbulkan medan magnet dengan kekuatan 0,1% dari kekuatan magnet bumi.

2. Venus



Venus atau disebut juga Bintang Kejora merupakan planet paling dekat kedua dengan matahari setelah Merkurius. Venus adalah planet yang rendah dari Bumi. Venus mencapai kecerahan maksimal sesaat sebelum matahari terbit atas segera sesudah matahari terbenam. Itulah alasan mengapa planet ini juga disebut degan nama Bintang Sore atau Bintang Fajar.

3. Bumi



Bumi merupakan planet ketiga terdekat dengan matahari setelah Merkurius dan Venus. Kala rotasi bumi yaitu 23 jam 56 menit 4 detik, sedangkan kala revolusinya adalah 365,25 hari. Bumi memiliki atmosfer dan medan magnet yang dinamakan magnetosfer yang melindungi permukaan Bumi dari sinar UV, angin surya, dan radiasi yang berasal dari luar angkasa. Lapisan udara ini terdiri dari Troposfer, Stratosfer, Mesosfer, Termosfer, dan Eksosfer.

4. Mars



Mars merupakan planet paling dekat keempat dari Matahari. Planet ini disebut juga planet merah karena dari jauh terlihat berwarna kemerah-merahan. Hal ini karena adanya kandungan besi (III) oksida pada permukaan planet Mars. Mars merupakan planet berbatuan dan memiliki atmosfer yang tipis. Pada permukaan Mars terdapat gunung berapi, gurun, kawah, lembah, dan lapian es.

5. Yupiter



Jupiter atau Yupiter merupakan planet terdekat elima dari matahari. Planet ini juga merupakan planet terbesar dalam tata surya.

6. Saturnus



Saturnus merupakan terbesar kedua dalam tata surya setelah Yupiter. Planet ini juga dikenal dengan sebutan planet bercincin. Jarak dari Saturnus ke matahari sangat jauh. Oleh karena itu, Saturnus tidak terlihat terlalu jelas dari Bumi.

7. Uranus




Uranus merupakan planet ke-7 dari Matahari. Planet ini merupakan planet terbesar ke-3 dalam tata surya.

8. Neptunus



Neptunus adalah planet terjauh dari matahari. Neptunus merupakan planet terbesar keempat dalam tata surya.

Penemuan Planet Layak Huni Pertama Selain Bumi

Si kerdil ternyata membawa kehidupan juga loh!

Untuk pertama kalinya, astronom akhirnya menemukan planet yang mirip Bumi di luar Tata Surya, sebuah planet ekstrasolar dengan radius 50% lebih besar dari bumi dan mampu memiliki air dalam bentuk cair. Penemuan ini memberi sebuah harapan baru dan sebuah langkah maju dalam usaha pencarian planet-planet yang bisa digolongkan sebagai planet layak huni. Dengan menggunakan teleskop ESO 3,6 m, tim pemburu planet dari Swiss, Perancis dan Portugal akhirnya menemukan super-Bumi yang massanya 5 kali massa Bumi dan mengorbit bintang katai merah, yang sebelumnya diketahui telah memiliki planet bermassa Neptunus. Para astronom juga menemukan bukti kuat yang menunjukkan indikasi keberadaan planet ketiga dengan massa 8 kali massa Bumi.
 

Planet Gliese 581 c

The Planetary System Around Gliese 581
Exoplanet, itulah cara para astronom dalam menyebut planet yang berada disekitar bintang selain Matahari. Nah, exoplanet yang baru ditemukan ini merupakan exoplanet terkecil yang pernah ditemukan hingga saat ini dan ia bisa mengitari bintangnya hanya dalam 13 hari. Dan jaraknya juga 14 kali lebih dekat dari jarak Bumi -Matahari. Bintang induknya sendiri ternyata bukanlah bintang sekelas Matahari melainkan bintang katai merah yang lebih kecil, kebih dingin dan lebih redup dibanding Matahari. Itulah bintang Gliese 581, bintang yang menaungi si exoplanet mirip Bumi tersebut.
Si exoplanet yang mirip Bumi ini terletak di dalam area layak huni sang bintang (berada dalam habitable zone bintang - akan dibahas dalam artikel yang lain), daerah disekitar bintang dimana air yang berada pada area itu bisa berada dalam bentuk cairan. Exoplanet tersebut dinamakan Gliese 581 c yang artinya planet kedua yang bermukim di bintang Gliese 581. Planet pertama dalam extrasolar planet dinamakan dengan nama bintang dan diikuti indikasi b, bintang kedua indikasinya c dst.
Menurut Stephane Udry dari Geneva Observatory, mereka memperkirakan temperatur rata-rata super-Bumi ini antara 0 - 40 derajat Celcius, dan kondisi airnya masih dalam bentuk cairan. Selain itu radiusnya juga diperkirakan hanya 1,5 kali radius Bumi, dan dari pemodelannya bisa diperkirakan kalau planet ini merupakan planet batuan seperti Bumi atau bisa jadi Gliese 581 c adalah planet lautan.

The star Gliese 581
Ditambahkan oleh Xavier Delfosse, salah satu anggota tim dari Perancis, kalau air dalam bentuk cair merupakan komponen yang sangat penting bagi kehidupan sepanjang yang kita ketahui. Dengan memiliki temperatur dan jarak yang relatif dekat seperti yang dimiliki Gliese 581 c, planet ini kemungkinan akan menjadi target penting dalam misi ruang angkasa di masa depan khususnya dalam hal pencarian kehidupan extra-terrestrial. Dan di dalam peta harta karun alam semesta, Gliese 581 c akan ditandai dengan X.
- perlu diingat perbandingan kehidupan itu sendiri akan selalu mengacu pada kehidupan di Bumi.-
Gilese 581
Bintang induk Gliese 581 merupakan satu diantara 100 bintang yang berada dekat dengan kita. Massa dan radiusnya hanya sepertiga massa Matahari. Planet katai merah seperti ini secara intrinsik memiliki kecerlangan setidaknya 50 kali lebih lemah dari Matahari. Bintang katai merah juga termasuk bintang yang umum ditemukan di dalam galaksi kita (Bimasakti) : diantara 100 bintang dekat dengan Matahari, 80 diantaranya berada di kelas ini.
Gl 581, atau Gliese 581, merupakan bintang ke 581 dalam urutan Katalog Gliese yang merupakan susunan bintang yang berada dalam jarak 25 parsecs (81,5 tahun cahaya) dari bintang. Katalog tersebut dibuat oleh Gliese dan diterbitkan pada tahun 1969 dan diperbaharui tahun 1991 oleh Gliese dan Jahreiss. Gliese 581 sendiri jaraknya 6,26 parsecs (22,66 tahun cahaya) berada di konstelasi Libra dan usianya 4,3 milyar tahun.
Menurut Xavier Bonfils dari Lisbon University, Bintang katai merah merupakan target ideal dalam pencarian planet bermassa kecil yang memiliki air dalam bentuk cair. Hal ini disebabkan karena bintang katai seperti ini memancarkan sedikit cahaya sehingga daerah layak huninya (habitable zone) berada lebih dekat dengan bintang dibanding planet-planet disekitar Matahari.
Planet-planet yang berada di daerah tersebut akan lebih mudah dideteksi dengan menggunakan metode kecepatan radial, metode yang paling sukses dalam pencarian dan deteksi exoplanet.
Planet Lainnya di Gliese 581
Dua tahun lalu, tim astronom yang sama juga menemukan planet yang mengelilingi Gliese 581. Planet yang dikenal dengan nama Gliese 581 b memiliki massa 15 massa Bumi, dan mirip dengan Neptunus. Ia mengorbit Gliese 581 hanya menghabiskan waktu 5,4 hari. Pada saat itu astronom juga sudah melihat adanya indikasi planet lain disekitar tempat itu. Dan setelah pencarian yang lebih lanjut, ditemukan planet super-Bumi, tapi bukan hanya itu, ada juga indikasi yang sangat jelas menunjukkan kalau ditempat itu ada planet ketiga. Planet ketiga tersebut memiliki massa 8 kali massa Bumi dan menyelesaikan putaran orbitnya dalam waktu 84 hari.
Sistem keplanetan di Gliese 581 sedikitnya telah memiliki 3 buah planet dengan massa kurang lebih 15 massa Bumi, dan ini bisa dikatakan merupakan sistem yang luar biasa. Selama ini pencarian exoplanet paling banyak dilakukan pada bintang yang sekelas Matahari.
Metode Pengamatan
Penemuan Gliese 581 c ini dilakukan dengan menggunakan metode kecepatan radial. Metode kecepatan radial mendeteksi perubahan kecepatan bintang induk yang diakibatkan oleh gaya gravitasi dari exoplanet (yang tak terlihat) saat ia mengorbit bintangnya. Evaluasi pengukuran kecepatan akan memberi deduksi tentang orbit planet, biasanya bisa diketahui periode dan jarak dari bintang, serta massa minimumnya. Secara statistik, massa minimum ini mendekati massa yang sebenarnya.
Penemuan ini dilakukan menggunakan spektograf HARPS (High Accuracy RAdial Velocity for the Planetary Searcher), teleskop ESO 3,6 m di La Silla, Chille. HARPS bisa mengukur kecepatan dengan presisi lebih baik dari 1 meter per detik (3,6 km/jam). Dalam pendeteksian ini, variasi kecepatan yang terdeteksi antara 2 dan 3 meter per detik atau setara dengan 9 km/jam. Dari 13 planet yang massanya dibawah 20 massa Bumi, 11 diantaranya ditemukan dengan HARPS.
Selain Gliese 581 c ada dua sistem lain yang memiliki massa kecil juga, yakni planet es yang mengitari OGLE-2005-BLG-390L, yang ditemukan dengan jaringan teleskop microlensing. Massa planet tersebut 5,5 massa Bumi. Namun planet tersebut orbitnya lebih jauh dari bintang induknya yang kecil dibanding jarak Gliese 581 c dengan bintangnya. Selain itu planet yang mengitari OGLE-2005-BLG-390L juga lebih dingin.
Planet lainnya memiliki massa minimum 5,89 massa Bumi (dengan kemungkinan massa benarnya 7,53 massa Bumi) dan periode orbitnya kurang dari 2 hari, hal ini menyebabkan si planet terlalu panas untuk masih memiliki air di permukaannya.
Penemuan Gliese 581 c memberi satu titik cerah dalam masalah pencarian planet-planet yg mirip Bumi didalam zona layak huni bintang. Tapi untuk tiba pada apakah ada kehidupan lain disana atau mungkinkah kita hidup disana masih ada banyak hal yang perlu dijawab


Penemuan Planet Baru







Artist's rendition of atmosphere around planet
Para ahli astronomi melaporkan ditemukannya planet yang mungkin paling mirip bumi di sekitar tata surya. Planet itu lebih besar daripada bumi, tetapi para ilmuwan mengatakan, teknik mereka cukup canggih untuk mengidentifikasi lebih banyak planet yang besarnya hampir sama dengan bumi.
Sejak pertengahan tahun 1990an, para ahli astronomi telah menemukan lebih dari 170 planet yang mengorbit bintang-bintang di luar tata surya kita. Tetapi planet terbaru yang ditemukan di pusat bimasakti kita ini berbeda, dan membuat para pakar yakin bahwa mungkin banyak bumi lain di luar sana.
Sebegitu jauh, sebagian besar planet yang ditemukan di sekitar bintang yang normal adalah planet raksasa berisi gas seperti Saturnus dan Jupiter, beberapa planet sebesar bumi yang diduga berbatu-batu telah ditemukan, tetapi mereka mengorbit bintang-bintang mati yang disebut bintang neutron. Sebegitu jauh, hanya satu planet berbatu yang ditemukan mengorbit bintang biasa, tetapi besarnya tujuh setengah kali lebih besar daripada bumi. Dan lagi, semua planet yang ditemukan belum lama ini letaknya terlalu dekat dengan bintang untuk dapat dihuni kehidupan.

New planet - by artist Trent Schindler at the National Science Foundation
Planet terbaru yang diidentifikasi di luar tata surya kita itu lebih mirip dengan bumi. Ke-73 ilmuwan di 10 negara yang melacaknya memperkirakan bahwa besarnya hanya lima setengah kali bumi, dan letaknya lebih jauh dari bintang dibandingkan planet-planet lain, yaitu dua setengah kali jarak bumi dari matahari.
Salah satu penemu planet itu, David Bennett dari Universitas Notre Dame di Indiana mengatakan, itu berarti bahwa letaknya di luar zone yang dapat dihunin kehidupan, karena suhu permukannya 220 derajat di bawah nol Celcius. Namun, katanya, ini lebih menarik daripada planet-planet yang bersuhu tinggi di luar tata surya kita.
Pada dasarnya, tambah David Bennet, “Kami menyatakan telah membuka sebuah jendela baru, dan kami mendekati planet-planet yang mirip bumi, meskipun kami lebih memperhatikan planet-planet yang suhunya lebih rendah daripada bumi.”


Penemuan ini melibatkan sebuah teknik pencarian baru yang berbeda dengan yang digunakan untuk menemukan planet-planet lain. Cara lama tidak melihat langsung planet, tetapi memperkirakan kehadirannya dengan mengamati olengan bintang, yang diakibatkan oleh gravitasi planet yang mengorbit. Prosedur ini cenderung menemukan planet-planet yang terbesar, terpanas dan terdekat dengan bintang sehingga tidak dapat mendukung kehidupan.
Cara baru itu menggunakan fenomena alam yang disebut microlensing. Dengan teknik ini, cahaya dari bintang yang jauh diperbesar oleh gravitasi bintang di dekatnya, seperti cahaya lampu sorot yang melewati kaca pembesar. Kalau suatu planet mengorbit bintang yang ada di latar belakang, gravitasinya dapat meningkatkan kecerahan cahanya.
Pakar astronomi Prancis Jean Pierre Beaulieu dari Lembaga Astrofisika di Paris terkejut melihat besarnya peningkatan kecerahan cahaya ini: “Tadinya kami duga bahwa bintang ini lebih pudar daripada yang kami amati. Jadi kami memutuskan untuk melakukan pengukuran lagi, dan pada pengukurna kedua, bintang ini lebih terang.  Kami sangat bersemangat karena inilah yang sudah kami cari sejak lama.”
Para periset mengatakan, kelebihan microlensing adalah teknik itu dapat mendeteksi planet-planet bermassa rendah. Tentu saja teknik ini dapat mengamati bintang-bintang besar seperti Jupiter secara lebih mudah, tetapi sebegitu jauh baru menemukan dua. David Bennett mengatakan, kalau bintang-bintang besar jumlahnya lebih banyak di alam semesta, microlensing tentunya akan menemukan lebih banyak lagi.  David Bennett dan rekan-rekannya yang melaporkan penemuan ini dalam jurnal Nature mengatakan, microlensing kemungkinan besar akan menemukan planet-planet bermassa rendah lebih banyak, dalam bulan-bulan mendatang.
Michael Turner dari Yayasan Sains Nasional Amerika yang membantu pendanaan riset ini mengatakan, penemuan ini adalah terobosan penting dalam usaha menemukan jawaban atas pertanyaan “Apakah ada mahluk lain di alam semesta ini, selain di bumi?.”
Dengan ditemukannya lebih dari 170 planet di luar tata surya selama 11 tahun terakhir ini, tambahnya, petualangan untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu telah dimulai. (adaptasi: Djoko Santoso)


Banyak Tata Surya Lain di Alam Semesta

HONOLULU, RABU - Sistem tata surya dengan sebuah bintang yang dikelilingi planet-planet mungkin hal yang jamak di alam semesta. Para astronom telah menemukan bukti-bukti yang menunjukkan adanya bintang yang dikelilingi lebih satu planet, meski masih sangat jarang terlihat.
Dari 28 planet asing di luar tata surya kita yang ditemukan sepanjang tahun lalu, terdapat planet-planet yang mengelilingi satu bintang. Temuan ini tidak hanya menambah panjang daftar planet asing yang telah ditemukan sebelumnya yakni 236 planet, tapi juga menguatkan bukti bahwa sistem planet-planet merupakan hal yang jamak di alam semesta. 

Lynette Cook
Gambaran artis mengenai planet yang mengorbit bintang Gliese 436. Para pemburu planet yang menemukan 28 planet mengorbit bintang lain menyatakan tata surya serupa Bumi mungkin ditemukan juga di lokasi lain di jagad raya.




"Kami menambahkan 12 persen dari seluruh objek planet asing tahun lalu dan kami sangat bangga karenanya," ujar Jason Wright, salah satu astronom dari Universitas California Berkeley yang melaporkan temuan tersebut dalam pertemuan Masyarakat Astronomi Amerika (AAS), Selasa (29/5). Semakin banyaknya temuan planet asing tidak lepas dari kemampuan teknologi pengamatan objek langit yang semakin maju. karena jarak yang sangat jauh, para astronom belum sanggup melihat langsung planet asing tersebut.
Untuk mengetahui adanya planet asing, para astronom mendeteksinya dari ’riak’ cahaya bintang yang terjadi saat sebuah planet transit atau bergerak di antara bintang dan pengamat. Jika 15 tahun lalu para peneliti dapat mendeteksi adanya ’riak’ dengan resolusi 10 meter perdetik, kini mereka sanggup dengan satu meter perdetik.
Sistem planet-planet
Setidaknya empat dari seluruh planet asing yang baru diketahui berada dalam satu sistem planet-planet seperti tata surya kita. Hal tersebut menunjukkan, bahwa objek serupa planet dan sistem seperti tata surya kita merupakan sistem yang jamak dan banyak ditemukan di luar angkasa. Sebuah bintang kerdil merah tipe M yang jauh lebih kecil, lebih redup, dan lebih dingin dibandingkan Matahari mungkin dikelilingi lebih dari sebuah planet.
Kebanyakan planet asing yang terdeteksi memang objek yang seukuran Saturnus. Planet seukuran Bumi di luar tata surya kita mungkin masih sulit dideteksi, namun para astronom yakin akan semakin banyak ditemukan planet asing saat teknologi untuk mengamatinya semakin maju.
Planet asing terkecil yang pernah terdeteksi berukuran 5 kali massa Bumi. Planet yang diberi nama 581 c mengelilingi bintang kerdil merah bernama Gliese 581 yang berada pada jarak 190 triliun kilometer dari Bumi. Namun, planet ini belum teridentifikasi hingga detail komposisinya.
Sedangkan planet kecil lainnya seukuran Neptunus. Planet ini mengelilingi sebuah bintang tipe M bernama Gliese 436 (GJ 436) yang berada 30 tahun cahaya dari Bumi. Ukurannya sekitar 22,4 kali massa Bumi.
Saat ini, para pemburu planet asing akan semakin tertarik berburu ’riak’ pada bintang-bintang tipe M. Sebab, sekitar 70 persen bintang di alam semesta diperkirakan termasuk dalam tipe M.
Namun, pencarian planet juga dilakukan ke bintang-bintang tipe A atau F. Tiga dari planet asing yang ditemukan tahun lalu mengelilingi bintang yang massanya masin-masing 1,6 dan 1,9 kali massa Matahari. Namun, karena bintang jenis ini berotasi sangat cepat dan memiliki atmosfer yang berdenyut, sulit mendeteksi planet berukuran kecil dan hanya panet-planet raksasa seukuran Jupiter yang dapat terdeteksi.
Mendukung kehidupan
Pencarian planet-planet asing tidak berhenti hingga penemuan. Misi yang lebih menantang bagi para astronom adalah menemukan planet asing yang mendukung kehidupan seperti Bumi yakni dengan mencari tanda-tanda keberadaan air, oksigen, es, atau unsur lainnya.
Sejauh ini, hanya beberapa planet asing terdeteksi mengandung unsur pendukung kehidupan. Planet yang mengelilingi GJ 436, misalnya, diperkirakan memiliki lapisan es beku dan bukannya planet gas seperti planet-planet asing umumnya. Sedangkan 581 c dengan ukuran tak lebih besar dari Bumi mungkin padat dan mengandung unsur pembentuk kehidupan.
Dengan ditemukannya es, planet yang mendukung kehidupan dengan kandungan air dan oksigen seperti Bumi mungkin tersebar di berbagai sudut alam semesta.




Banyak Planet Punya Dua Matahari

Planet dengan dua Matahari seperti yang didiami tokoh Luke Skywalker dalam film Star Wars sepertinya bukan hanya sekadar fantasi. Bahkan jumlahnya sebanyak planet-planet dengan satu bintang seperti Bumi dan planet-planet lain di tata Surya.

Data yang dirilis Badan Antariksa AS (NASA) menunjukkan bintang ganda dalam sistem planet-planet merupakan hal yang umum di alam semesta. Teleskop ruang angkasa Spitzer menemukan banyak sistem planet-planet yang mengelilingi dua bintang seperti dipublikasikan dalam Astrophysical Journal edisi terbaru.
Para peneliti mencari Matahari ganda menggunakan kamera inframerah yang dibawa teleskop Spitzer. Perangkat tersebut dipakai untuk mencari jejak cakram debu yang terbentuk di antara dua bintang biner atau bintang ganda .
"Kami tahu bintang-bintang tersebut ada di sana, tinggal pertanyaannya apakah ada planet di sana," ujar Karl Stapelfeldt, ilmuwan dari Laboratorium Propulsi Jet NASA di Pasadena, California, AS. Secara teori, planet-planet banyak terbentuk pada cakram debu di sekitar bintang. Namun dengan dideteksinya cakram debu belum berarti ada planet di sana.
Data hasil pengamatan menunjukkan 40 persen sistem bintang ganda memiliki cakram debu. Persentasenya sedikit lebih besar daripada sistem bintang tunggal yang memiliki cakram debu seperti Tata Surya.
"Di Tata Surya, asteroid saling bertabrakan dan menghasilkan serpihan-serpihan debu seperti di cakram ini. Kami menyimpulkan, di sistem bintang ganda mungkin terdapat objek raksasa yang bertabrakan seperti asteroid-asteroid ini," ujar David Trilling dari Universitas Arizona. Planet kemungkinan terbentuk di sana karena proses pembentukan asteroid serupa dengan proses pembentukan planet-planet.
Tim peneliti telah mengamati cakram debu yang terdapat pada 69 sistem bintang ganda. Masing-masing terletak pada jarak antara 50 hingga 200 tahun cahaya dari Bumi.
Pada sistem bintang ganda yang jarak dua bintangnya terpisah 50 hingga 500 unit astronomi (atau 50 hingga 500 kali jarak matahari-Bumi), cakram debu terlihat mengelilingi salah satu bintangnya. Namun, para peneliti tidak menemukan cakram debu pada sistem bintang ganda yang terpisah pada jarak 3 hingga 50 unit astronomi. Dalam hal ini, para peneliti memperkirakan gaya gravitasi mungkin menyebabkan serpihan-serpihan debu terlempar ke ruang angkasa sehingga tak terbentuk planet-planet.
Nah, pada sistem bintang ganda yang terpisah pada jarak 0 hingga 3 unit astronomi, sekitar 60 persennya memiliki cakram debu mengelingi kedua bintang. Planet-planet yang mengelilingi bintang ganda ini akan mengalami peristiwa terbit dan tenggelamnya Matahari seperti di dataran bergurun Planet Tatooine di film Star Wars episode IV, A New Hope. 

Air Terlihat di Planet Asing


Air Terlihat di Planet Asing

WASHINGTON, RABU - Bukti adanya air telah terdeteksi untuk pertama kalinya di sebuah planet di luar tata surya kita. Hal ini memunculkan kembali keingintahuan para peneliti mengenai apakah ada kehidupan lain di luar Bumi. Demikian diungkapkan para astronom di Observatorium Lowell, Flagstaff, Arizona.
Travis Barman, salah seorang astronom, mengatakan bahwa mereka berhasil menemukan uap air di atmosfer sebuah planet gas besar serupa Jupiter yang berada 150 tahun cahaya dari Bumi pada arah gugus bintang Pegasus. Planet itu dikenal dengan nama HD 209458b. "Ini adalah kabar baik karena kami telah lama menduga ada air di atmosfer planet itu dan juga planet-planet lain," kata Barman..

Penelitian mengenai keberadaan uap air itu dimungkinkan karena bila dilihat dari Bumi, planet tersebut mengorbit bintangnya tepat di muka bintang tersebut setiap 3-1/2 hari, sehingga memungkinkan dilakukannya pengukuran. Inilah yang disebut sebagai planet transit. Planet transit akan terlihat mengambang lewat di depan bintangnya bila dilihat dari Bumi.
Sudah sejak lama para ilmuwan berusaha mencari keberadaan air di planet lain - baik di dalam maupun di luar tata surya kita - karena air diyakini merupakan unsur pokok bagi kehidupan. Meski demikian Barman memberi catatan bahwa planet gas seperti Jupiter dan planet ini, sepertinya kurang mungkin memiliki kehidupan. Kehidupan lebih mungkin ditemukan di planet batu seperti Bumi atau Mars. Ia mengatakan, penemuan uap air di atmosfer HD 209458b belum bisa menjawab pertanyaan mengenai keberadaan kehidupan asing di luar sana.
"Ini adalah bagian dari teka-teki karena pengetahuan mengenai penyebaran air di tata surya lain adalah hal yang penting untuk mencari tahu apakah tempat itu bisa mendukung kehidupan atau tidak," katanya. "Keberadaan air tidak selalu seiring dengan keberadaan kehidupan, namun juga bukan berarti tidak mungkin ada kehidupan di sana."